Humans of Music (part 1: Rafika Primadesti)

Humans of Music, by Felicia Satyadi and Vanessa Tunggal.

Felicia and Vanessa asked questions to musicians over lunch, coffee or even online chat applications and received inspirational answers in return.

 

Rafika Primadesti, freelance oboist, orchestral musician, art appreciator, Bachelor of Commerce graduate

How do you see musicians?

Bagi saya, musisi layak disamakan dengan atlit yang punya jadwal olah fisik dan mental secara teratur. Selain itu, bermusik tidak hanya membutuhkan passion, tetapi juga kerja keras, keinginan untuk berpengetahuan luas dan kedisiplinan tingkat tinggi. Misalnya, sebagai pemain orkestra, musisi dituntut untuk memainkan not yang tepat di waktu yang tepat dengan berbagai elemen yang sesuai pada konteks karya, serta intensi dari komposer, sehingga musisi harus aktif belajar dan mencari referensi tentang berbagai macam karya. Padahal, untuk memainkan not yang tepat saja butuh persiapan sendiri, belum lagi saat berlatih bersama orkestra, dimana musisi harus menyamakan interpretasi dibawah konduktor.

What makes you keep being involved in music?

"This may sound cliché but music has been a crucial part of my life for as long as I can remember." However, sampai kelas 3 SMA, sama sekali belum terlintas di benak gue kalau suatu saat musik akan memegang peranan penting dalam hidup gue. Sekarang, setelah memutuskan untuk mendedikasikan hidup gue buat musik, somehow, musik terasa makin natural buat gue.

"(Music) is just a part of how I speak, how I act, and how I live my life."

 

If you could turn back time, what do you want to be?

Kalau ada kesempatan ngulang lagi, gue mau kuliah musik langsung setelah SMA. Untuk sekarang, doakan lancar dan terlaksana rencana gue kuliah musik. Setelah lulus, I'm expecting that my understanding towards music will have improved by then and hopefully, my playing will adjust.

Inspirational story.

Idola sepanjang masa: Diana Doherty. Mbak Diana itu yang inspire dan motivate gue dari awal gue belajar oboe. I really admire her playing. Beliau itu Principal Oboe Sydney Symphony Orchestra (SSO), yang kabarnya salah satu pemain oboe terbaik di dunia. Berhubung waktu itu baru bisa kepo jarak jauh, akhirnya gue cari-cari video beliau di YouTube. Beruntung ternyata di channel YouTube SSO ada video principalnya ngasih masterclass, termasuk mbak Diana. Ada juga video2 performance mbak Diana, baik di orkes maupun solo. Dari video-video itu pertama kalinya denger suara oboe mbak Diana dan langsung naksir. Tahun 2012 atau 2013, Alhamdulillah bisa kabur ke Sydney dari Melbourne naik kereta ekonomi lalu pesen tiket SSO, berharap nonton mbak Diana. Eh, ternyata di konser itu mbaknya lagi ngga main. Untungnya tahun lalu, pas ikut festival di Sydney sama orkes Universitas Indonesia, ada kesempatan nonton SSO lagi dan kali itu mbak Diana main! Kebetulan juga di salah satu programnya ada solo oboe panjang banget. Sepanjang dengerin beliau main gue cuma bisa nangis. HAHAHA. Terharu banget akhirnya bisa denger suara oboe mbak Diana langsung. Indah banget.